Rabu, 08 Juni 2016

ranu kumbolo

RANU KUMBOLO


Gunung Semeru merupakan gunung api tertinggi di Pulau Jawa, gunung tersebut merupakan salah satu gunung aktif yang terletak pada ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut. Kawah di puncak Gunung Semeru (Mahameru) dikenal dengan nama Jonggring Saloko yang selalu menyemburkan asap disertai material vulkanik. Di lereng gunung tertinggi tersebut, terdapat sebuah danau yang memiliki pemandangan yang sangat memukau dan eksotis, yakni Ranu (danau) Kumbolo.


Kepala Bidang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Lumajang, Anggoro Dwi Sujiharto, mengatakan, banyak pemandangan yang sangat indah menuju ke puncak Semeru, salah satu di antaranya adalah Ranu Kumbolo. Untuk menuju ke Ranu Kumbolo, wisatawan bisa menempuh perjalanan melalui Kota Malang atau Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Dari terminal kota Malang, bisa naik angkutan umum menuju desa Tumpang dan berhenti di terminal Tumpang. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan naik angkutan truk sayuran atau menggunakan jip (SUV) yang disewakan oleh penduduk sekitar menuju ke Ranu Pani. Sebelum menuju ke Ranu Pani, wisatawan harus mampir ke pos TNBTS di Gubugklakah untuk mendapatkan izin pendakian. Apabila wisatawan berangkat dari Lumajang, mereka harus menuju ke Desa Ranu Pani di Kecamatan Senduro dengan menggunakan kendaraan pribadi atau naik ojek di sekitar pasar Senduro. “Wisatawan atau pendaki Semeru yang berangkat dari Lumajang harus memperoleh surat izin dari pos TNBTS di Desa Ranu Pani,” ucapnya. Ia menjelaskan, perjalanan wisata menuju Ranu Kumbolo memang membutuhkan fisik yang kuat dan perbekalan yang cukup, sehingga wisatawan harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Ranu Kumbolo sangat memukau, namun pendaki harus tetap waspada dan hati-hati. Dari pos TNBTS di Ranu Pani, dapat melakukan perjalanan sekitar 5 kilometer menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kemudian anda akan tiba di Watu Rejeng. Di sini terdapat batu terjal yang sangat indah.
Pemandangan sangat indah juga dapat dilihat ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Terkadang pendaki dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Perjalanan dari pos TNBTS Ranu Pani menuju ke Ranu Kumbolo membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam, tergantung kemampuan masing-masing wisatawan. Di Ranu Kumbolo, pendaki dapat mendirikan tenda atau beristirahat di sebuah pondok pendaki (shelter).
Ranu Kumbolo juga bisa menikmati pemandangan indah di tepi danau yang airnya bersih dan jernih. Banyak terdapat ikan dan burung belibis liar di sana. Pemandangan yang tidak boleh terlewatkan di tepi Ranu Kumbolo adalah saat matahari terbit (sunrise) muncul dari balik bukit. Panorama eksotis dan memukau di Ranu Kumbolo tidak akan terlupakan oleh pendaki atau wisatawan yang pernah ke sana.


Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 mdpl dengan luas 14 hektare. Memang benar pemandangannya cukup indah di sana. Ia menjelaskan, rute jalur pendakian Semeru yang harus dilalui antara lain Ranu Pani-Watu Rejeng-Ranu Kumbolo-Oro-oro Ombo-Cemoro Kandang- Jambangan-Sumbermani-Kalimati-Arcopodo- Cemoro Tunggal-Mahameru. TNBTS biasanya menutup jalur pendakian ke Semeru selama musim hujan karena khawatir terjadi longsor dan badai yang dapat membahayakan para pendaki. Hampir Setiap tahun, kata dia, TNBTS menutup jalur pendakian Semeru selama empat bulan terhitung sejak Desember hingga April, sehingga wisatawan juga harus memperhatikan hal tersebut. Penutupan jalur menuju obyek wisata Semeru juga bertujuan ‘recovery’ (pemulihan) ekosistem di kawasan gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu. Sebelum jalur pendakian Semeru dibuka, kata Anggoro, petugas TNBTS akan melakukan survei jalur pendakian untuk memastikan jalur tersebut tetap bisa dilewati dan aman bagi pendaki.
 Bagi yang suka melakukan perjalanan wisata penuh tantangan, obyek wisata panorama Ranu Kumbolo merupakan salah satu pilihan yang luar biasa, namun anda harus menunggu TNBTS membuka jalur pendakian Gunung Semeru, lebih dulu. Anda juga harus membawa perlengkapan baju hangat dan perbekalan makanan yang cukup karena suhu udara di sana sangat dingin.

Di Ranu Kumbolo, akan menemukan obyek wisata dengan panorama alam yang memukau dan masih alami. Selain itu, juga bisa memancing ikan air tawar di sana. Saat pagi hari. kita akan melihat matahari muncul dari belakang bukit. tentunya hal itu dapat membuat kita terpukau. Bagi yang ingin ke sana, pendaki diwajibkan membawa sleeping bag dan tenda. Alat-alat lain yang harus dibawa yaitu sarung tangan, kompor (jika membawa makanan instan), air (minimal 3 liter untuk satu orang), senter, tisu basah, dan makanan secukupnya. untuk masuk ke sana, tarif perharinya yaitu Rp 17.500 untuk hari biasa, dan 22.500 untuk hari libur.





Senin, 06 Juni 2016

Perjalanan ke Puncak Lemongan



GUNUNG LEMONGAN


 
Gunung Lamongan adalah sebuah gunung api Strato yang masih aktif, terletak di desa Papringan-Klakah-Lumajang -Jawa Timur, bagian dari Pegunungan Tengger dan kelompok Pegunungan Iyang-Argopuro. Puncaknya adalah Tarub (1 651 m).
Gunung Lamongan dikelilingi 27 maar yang garis tengahnya berkisar antara 150 dan 700 meter. Beberapa maar mempunyai danau seperti Ranu Klakah,Ranu Pakis dan Ranu Bedali

              Gunung Lamongan juga memiliki 5 puncak. Yang saat ini aktif terletak 650 meter di sebelah barat daya puncak Tarub. Danau, di antaranya Ranu Pakis, Ranu Klakah dan Ranu Bedali, terletak di lereng barat dan timur. Maar yang kering terletak terutama di lereng utara. Tidak diketahui letusan maar yang tercatat dalam sejarah. Gunung Lamongan sempat sangat aktif dari tahun 1799, letusan pertamanya  tercatat dalam sejarah, sampai akhir abad ke-20.

PENDAKIAN GUNUNG LEMONGAN
Untuk menuju ke Gunung Lamongan akses jalan yang bisa ditempuh jika dari Surabaya ataupun dari Jember adalah berhenti di Stasiun Klakah. Bisa juga di Alfamart Klakah. Selanjutnya kita bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pos 1 ( Padepokan mbah Citro ). Jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar 7-8 km sehingga cukup membuat kaki terasa pegal. Untung jalannya yang ditempuh adalah jalan beraspal. Setelah masuk desa papringan untuk menuju ke padepokan Mbah Citro kita akan melewati jalan berbartu dengan medan yang cukup menanjak. Jika kita berjalan dari Stasiun Klakah jam 4 sore maka kita akan sampai di Padepokan Mbah Citro sekitar Jam 6 sore. Usahakan berangkat pendakian sore hari. Saya sebagai warga asli lumajang biasanya berangkat menuju Lemongan jam 3 sore dari rumah, kemudian setelah masuk desa papringan sepeda kami dititipkan di rumah salah seorang warga, kemudian berjalan menuju padepokan mbah Citro sekitar 2 jam.

 



Setelah sampai di padepokan Mbah Citro gunakan waktu untuk beristirahat sekaligus meminta ijin kepada Mbah Citro yang merupakan juru kunci Gunung lamongan untuk melakukan pendakian. Jika Mbah Citro mengijinkan pendakian maka pendakian bisa dilanjutkan tetapi jika beliau tidak mengijinan mendaki maka jangan coba - coba dilanggar karena beliau tau seluk beluk dan kharakteristik gunung Lamongan. Walau beliau sudah berusia hampir 100 tahun namun beliau masih sanggup untuk mendaki Puncak Gunung Lamongan. bahkan ada suatu kisah menarik dimana beliau tiba - tiba muncul di Hutan Hujan Basah padahal sore itu pendaki banyak yang minta ijin pendakian ke beliau. namun saat malam tiba beliau sudah di hutan hujan basah tanpa sekalipun pendaki lain tau atau merasa disalip oleh mbah Citro. ( Waallahu alam )
Untuk memulai pendakian biasanya berangkat dari Pos 1 Mbah Citro berangkat jam 9 atau 10 Malam. Setelah itu kita mengikuti jalur pendakian yang sering diperbaiki oleh Laskar Hijau. Karena kita melakukan pendakian malam hari jangan lupa bawa senter. Selama perjalanan kita akan melewati ladang rumput yang cukup tinggi. Setelah mungkin 1 jam dari pos 1 kita akan menemukan jalan yang cukup menantang karena terdiri dari banyak batu yang bisa bergerak jika kita injak. Hati - hati karena kita bisa terperosok. Batuan ini dikenal dengan sebutan watu Pup atau watu Taek. Tujuan kita adalah menuju Pos 2 yang dikenal dengan sebutan Watu Gedhe. Untuk menuju Watu Gedhe dari Mbah Citro butuh waktu sekitar 2 jam sehingga kadang pendaki sampai disana jam 12 malam.






Biasanya pendaki yang tidak kuat melanjukan pendakian maka pos watu gedhe adalah tujuan akhirnya. Ada tempat untuk mendirikan tenda disini. Pendaki diharapkan istirahat di watu gedhe untuk memulihkan tenaga dengan beristirahat ataupun untuk mengisi perut yang sudah lapar. Pendakian setelah watu gedhe memiliki rute yang menanjak dengan kemiringan di atas 45 derajat jadi tenaga harus benar - benar fit. Biasanya pendaki istirahat disini 1 - 2 jam. 
Setelah cukup tenaga maka pendaki bisa melanjutkan pendakian pada jam 12 malam dengan mengikuti rute yang ditentukan. Jangan berharap kita menemukan medan datar karena medan disini sampai pos hutan hujan basah memiliki medan yang terjal dengan batuan kecil kasar dan keras yang cukup bisa membuat kaki sakit jika tidak berhati - hati. Dalam perjalanan inilah kita bisa menemukan suatu tanjakan berpasir dan berbatu yang cukup terjal dan cukup tinggi dimana ketika kita berjalan 3 langkah maka kita akan merosot 1 langkah bahkan 2 langkah. Itu membuat kaki akan terasa super capek dan pegal. Tanjakan itu bernama tanjakan putus asa karena bisa membuat pendaki putus asa dan balik kanan untuk kembali ke watu gedhe jika sudah tidak kuat lagi mendaki.

 



Setelah pendaki bisa melewati tanjakan putus asa maka pendaki istirahat di pos hutan hujan basah. Jangan dibayangkan ada bangunan disini karena pos nya hanya berupa tanah lapang yang tidak begitu besar. Kita bisa istirahat disini tapi jangan lama - lama agar kita bisa  mendapatkan kemunculan matahari terbit di puncak gunung Lamongan. Setelah ini kita akan memasuki hutan hujan basah yang memiliki medan tanah yang kadang cukup labil kalau diinjak. Biasanya pendaki akan disambut dengan sambutan hewan khas sana yaitu pacet ( sejenis lintah )yang siap menghisap darah pendaki. Kalau pendaki beruntung juga bisa menemukan tumbuhan kantung semar yang merupakan tanaman pemakan serangga.
Selama perjalanan di hutan hujan basah maka kita akan menemukan sumber mata air guci. Itu merupakan mata air terakhir. Jangan dibayangkan sumber mata air ini bersih dan jernih arena sumber mata air ini berasal dari tetesan air di akar pohon yang ditampung di sebuah guci. Kadang juga banyak jentik - jentik nyamuk. Tapi bagi pendaki sumber mata air ini sangat berarti karena kebanyakan persediaan air yang dibawa habis saat melewati tanjakan putus asa. Biasanya dari pos hutan hujan basah sampai puncak kita membutuhan waktu 2 - 3 jam tergantung kekuatan fisik pendaki. Selama melewati hutan hujan basah pendaki diharapkan untuk menjaga diri dari pikiran negatif , kotor ataupun ucapan kotor karena banyak pendaki yang tersesat dan tidak bisa keluar dari hutan ini dan berputar- putar disana. Jika hal ini terjadi pada pendaki segera ingatlah Tuhan dan berpikirlah positif.
Saat mendekati hampir puncak gunung Lemongan maka kita akan melihat batu yang cukup besar persis dengan batu di watu gedhe. Sehinga banyak pendaki yang menjulukinya batu kembar.  Kalau kita benar - benar memperhitungkan waktu dengan tepat maka kita akan bisa menikmati matahari terbit dari atas puncak gunung Lemongan.Kita juga bisa menikmati keindahan ranu klakah, ranu pakis, ranu lading, dan ranu wurung dari puncak gunung Lemongan.
Setelah sampai puncak kita akan menikmati suatu keindahan yang sangat menakjubkan. Matahari terbit, samudra awan, dan juga kita akan melihat gunung Semeru. Para pendaki biasanya mulai turun dari puncak jam 8 pagi karena cahaya matahari sudah mulai panas. Oh iya, ada semoyan nih.... "Jangan meinggalkan apapun selain jejak, jangan mengambil apapun kecuali gambar, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu"



  SELAMAT MENDAKI!!!